You Are Here: Home» Kesehatan » Waspada Terhadap Kebihan Hormon Endorphin

Kortisol, adrenalin dan noradrenalin adalah tiga sekawan hormon stres yang sudah terlanjur menjadi pameo hormon jahat. Sementara, endorphin yang diyakini kekuatannya mencapai 200 kali lipat morphin adalah hormon dewa yang menenangkan. Padahal, pameo ini tidak sepenuhnya benar.
Stres (yang sekarang beken dengan istilah galau) dalam kadar tertentu dibutuhkan oleh tubuh untuk memacu produksi ketiga hormon stres tersebut. Salah satu fungsinya adalah membuat kita menjadi lebih aware. Sementara, endorphin tak selamanya adalah dewa. Dalam kondisi berlebih ketenangan dapat menikam diri sendiri (yang terakhir ini, belum ada riset yang saya baca. Jadi, lebih tepatnya; hipotesis saja).
Lebaran lalu, entah berapa titer endorphin yang dirilis kelenjar pituitari otak, yang membuat ummat merasakan euforia yang luar biasa. Kebahagiaan yang memuncak. Walau, kemacetan perjalanan memicu hormon stres berlipat-lipat, sepertinya endorphin lebih menjadi pemenangnya. Dan, sepertinya titer itu kini berangsur menyusut, pulih dalam kepenatan lagi.
Belum sampai betul-betul menyusut, endorphin kita dipicu lagi. Agar berproduksi lebih. Pemicunya bukan lagi lebaran. Tapi, Agustusan. Petasan, karung goni, kerupuk, kendi-kendi air, dan pohon jambe membuat senyum dan tawa kita mengembang kembali. Namun, dalam tawa itu hatiku galau. Kalau-kalau endorphin kita terlalu berlebihan.
Lebaran, mestinya kebahagiaan itu berbaur kesedihan. Karena tibanya hari Kemenangan itu, berarti Ramadhan telah kembali pulang. Begitupun, Agustusan. Seremonial ritual tahunan itu tak lagi mengandung esensi. Karena, endorphin yang berlebih telah membuat kita lupa, bahwa sebetulnya negeri tercinta kita ini masih terjajah. Bahkan, mungkin lebih parah! Terlalu baik hormon stresor kita simpan, membuat kita lena dan lupa. Bahwa sebetulnya perjuangan harus lebih membara. Membebaskan negeri ini dari penjajahan Asing dan para centengnya. Juga dari bully pemikiran asing yang masih kita cinta. Menuju kemerdekaan hakiki; ketundukan hanya pada Ilahi Robbi.
Tags: Kesehatan

0 komentar

Leave a Reply

Berikan tanggapan dan aspirasi anda di kolom komentar ini